Tangkap Angin, Salurkan Air




Sahabat Alam Bernama Belanda (Bagian Kedua-Habis)

Tak ada yang istimewa dari kaleng biskuit itu. Bentuknya biasa saja, persegi. Namun, gambar yang tercetak di bagian depan kaleng akan membuat anda langsung tahu asal kaleng itu. Tampak seorang gadis dengan pakaian tradisional khas sembari menenteng keranjang rotan mungil di tangan kirinya. Di kiri-kanannya hamparan bunga tulip berjajar rapi di samping permadani rumput, sedang di belakangnya menjulang bangunan kincir angin. Sampai di sini, anda pasti tahu darimana asal kaleng biskuit tadi. Ya, Belanda.

Kincir angin sudah lama tersohor sebagai ikon sekaligus inovasi khas negara di jantung Benua Biru itu. Julukan negeri kincir angin pun telah melekat sebagai identitas unik untuk negeri monarki konstitusional itu. Sebab, beberapa abad lalu, Belanda memiliki lebih dari 10 ribu kincir angin. Sekarang memang jumlahnya susut, tak lebih dari seribu kincir angin.

Di Belanda, kincir angin (windmollen) digunakan pertama kali sekitar abad 13. Waktu itu, masih banyak lokasi di Belanda yang berada di bawah air. Dengan kincir air yang ada di dalam bangunan kincir angin tersebut, air yang ada di tanah Belanda dialihkan, disalurkan, dan dibendung. Setelah itu, tanah yang masih sedikit basah dikeringkan dengan kincir angin.

Menara kincir angin (torenmolen) di Belanda. (Foto : http://www.wikimedia.org)

Pemakaian kincir angin makin berkembang seiring perkembangan teknologi dan arsitektur. Sekitar abad 17, kincir angin juga digunakan sebagai salah satu sarana pembantu dalam bidang pertanian dan industri. Kincir angin memang memegang peran kunci di negara ini. Sepintas lalu, semua kincir angin di Belanda terlihat nyaris sama. Padahal, terdapat berbagai jenis kincir angin berdasar fungsi dan kegunaannya. Dari fungsinya, ada dua jenis kincir angin, yaitu untuk kepentingan industri dan untuk penyaluran air. Kincir angin untuk kepentingan industri pun memiliki beragam jenis dan diberi nama sesuai pemanfaatannya. Misalnya, kincir angin untuk menggergaji (sawmill), lalu kincir angin untuk menggiling jagung (cornmill). Ada pula kincir angin kecil (wipmolen) dan menara kincir angin (torenmolen).

Kincir angin untuk menggergaji (sawmill) di Zaanse Schans, Belanda. (Foto :www.zaanseschans.nl)

Untuk kepentingan penyaluran air, yang digunakan adalah kincir angin standar atau standaardmolen. Kincir ini terbilang paling tua. Meski tergolong sudah uzur, kincir ini punya fungsi vital. Yakni, menangkap dan mengalihkan banyak angin, serta mengalihkan dan mengeringkan air lebih cepat. Bukan hal aneh jika kincir angin tipe ini banyak ditemukan di pusat kota di Belanda. Itu semua karena kelebihannya.

Pemanfaatan kincir angin di Belanda saat ini semakin berkembang. Awalnya, kincir angin hanya digunakan untuk membantu proses irigasi, dan menggiling hasil panen. Kini, fungsinya bertambah. Di antaranya untuk mengasah kayu, memproduksi kertas, mengeluarkan minyak dari biji, dan sebagai obyek wisata.

Kincir angin standar atau standaardmolen, kincir paling tua di Belanda. (Foto: http://www.photobucket.com)

Bagi anda yang ingin melihat lebih dekat berbagai kincir angin di Belanda, banyak tempat yang bisa dikunjungi untuk memuaskan rasa penasaran anda. Tapi, jika tidak cukup waktu untuk berkunjung ke semua tempat, anda cukup berkunjung ke Zaanse Schans atau Kinderdijk. Di sini, anda akan menjumpai banyak jenis kincir angin.

Di Zaanse Schans, kincir angin dioperasikan untuk membantu proses pengalihan air di daerah Belanda Utara (Noord-Holland). Di daerah ini, anda dapat melihat cara kerja kincir angin dalam mengalihkan air dan aneka atraksi di sekitarnya. Seperti pembuatan keju, pembuatan sepatu kayu (klompen), dan lainnya. Tiket masuk lokasi kincir angin gratis, tetapi di setiap atraksi, anda akan dikenakan tarif yang berbeda-beda.

Kincir angin di Kinderdijk, Belanda yang sebagian besar digunakan sebagai alat pemompa air. (Foto : http://www.holland.com)

Di Kinderdijk, sebagian besar kincir angin digunakan sebagai alat pemompa air. Dari sekitar seribu kincir angin yang tersisa di Belanda, 19 di antaranya bercokol di Kinderdijk. Kincir angin di sini tertata rapi sehingga menghasilkan pemandangan yang sungguh indah. Terutama saat matahari terbenam. Banyak pengunjung mengabadikan keindahannya dalam bentuk lukisan dan foto. Bila berminat mengelilingi lokasi ini, anda bisa memilih berjalan kaki atau naik sepeda.

Anda juga bisa berkunjung ke kincir angin yang dimiliki oleh perseorangan. Tepatnya pada setiap hari Sabtu pertama dalam setiap bulan atau setiap tanggal 13 Mei, yang ditetapkan sebagai hari kincir angin. Pemilik kincir angin dengan senang hati membuka kincir angin mereka untuk umum. Namun, kincir angin perseorangan ini sebetulnya juga terbuka tiap hari, karena kebanggaan akan kincir angin mereka. Jangan segan bertanya karena mereka selalu siap memberikan keterangan tentang cara kerja kincir angin miliknya.

Apapun jenis dan kegunaannya, kincir angin menjadi bukti sahih lain dari kemampuan adaptif Belanda dalam menyikapi kondisi alamnya yang menantang. Letak sebagian besar wilayah yang berada di bawah permukaan air laut, tak membuat Belanda berpangku tangan dan pasrah. Sebaliknya, tantangan alam melahirkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan yang membuat Belanda unggul. Khususnya, kemampuan Belanda mengapungkan daratannya di tengah kepungan laut, baik dengan bendungan atau kincir angin. Kemampuan yang mengundang banyak negara dengan persoalan serupa hilir mudik ke negeri Ratu Beatrix itu untuk belajar menyiasati alam. (Sumber : http://www.zaanseschans.nl/, http://www.kinderdijk.nl/, www.ranesi.nl, http://www.holland.com, diolah)

17 responses to this post.

  1. wah ikutan juga ya om, seep seep..btw, di kalimantan dst sangat potensial dibangun kincir air utk pembangkit listrik :D

  2. iya mas rahman, sebagai penggembira saja kok. prinsipnya, kita semua harus bisa bersahabat dan beradaptasi dengan alam sambil memanfaatkan potensinya di saat yang sama. prinsip ini yang harus diterapkan, baik di kalimantan atau di tempat lain yang punya potensi alam luar biasa.

  3. Posted by sedjatee on April 21, 2010 at 7:15 pm

    menarik.. seperti ditulis oleh orang yang berada di belanda..
    salam sukses, semoga meraih kegemilangan..

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

  4. terima kasih mas. sebetulnya, ini cuma hasil browsing sana-sini mas. mau studi literatur, takut nggak cukup waktunya. sukses juga buat anda.

  5. Posted by fiska on April 21, 2010 at 8:37 pm

    Panjang kata nih, kalo kita bersahabat dengan alam dengan apapun caranya, maka alam juga pasti membalas persahabatan kita dengan cara yang bersahabat juga, asal cara itu tidak mengurangi potensi yang ada di alam. Kalo kincir anginnnya sebesar itu berapa banyak air ya…yang bisa dipompa dan apakah itu akan memenuhi kebutuhan air di Belanda. Kalo saja pompa air di Indonesia segede itu, mungkin PDAM tidak akan sering mati kali ya….Tapi kincir angin itu selain buat mompa air apa juga digunakan sebagai sarana pembagkit tenaga listrik ya?semacam PLTA gitu…..

  6. fiska yang baik, kalau melihat letak Belanda, bisa jadi kebutuhan air mereka lebih dari cukup. tentu saja kincir angin itu bisa dipakai untuk pembangkit listrik selama lokasinya sesuai untuk menangkap besarnya angin yang ada di daerah tertentu.

  7. Posted by Shinta on April 26, 2010 at 6:58 pm

    Wilayah Belanda memang 70% adalah laut jadi Belanda yang tak ingin daratannya tenggelam akhirnya membuat inovasi berupa kincir angin. Yang tak lain digunakan untuk mengalihkan banyak air kembali ke laut dan mengeringkan air lebih cepat, tentu saja itu didukung oleh angin yang kencang. Tapi bagaimana dengan sekarang? Pemanasan global sudah merubah kondisi iklim dunia. Tak terkecuali Belanda juga pastinya terkena dampaknya. Iklim memanas dan hembusan angin juga berkurang. Yang lebih parah, melelehnya es di kutub. Kalau hembusan angin berkurang, jumlah kincir angin berkurang hingga tak lebih dari seribu dan permukaan air semakin meninggi, apa yang terjadi pada Belanda? Itu yang perlu dipelajari dari Belanda, apakah Belanda akan membuat inovasi lagi?

  8. Shinta yang baik, inovasi adalah nyawa orang Belanda. Ini adalah konsekuensi logis dari kondisi geografis alam mereka yang sungguh unik. Informasi terakhir yang saya ketahui, Belanda akan mengembangkan strategi hidup di air.
    Sudah ada semacam prototipe-nya berupa perumahan mengapung di Maasbommel, Belanda. Ini untuk menjaga penduduk tetap kering dan pada saat bersamaan bertindak lebih cepat terhadap ancaman banjir karena naiknya permukaan air laut. Apakah ini yang akan diterapkan atau ada lainnya yang lebih canggih, mari kita saksikan bersama.

  9. bisa dikatakan, Indonesia kaya akan angin dan air. tapi kenapa tidak melakukan seperti yang dilakukan Belanda ya…

    baca artikelku tentang Belanda di blogku ya…

  10. beberapa tempat di Indonesia sebetulnya telah mulai memanfaatkan potensi alam sekitar untuk membantu peningkatan kualitas hidup masyarakat. di antaranya, ada pembangkit listrik mikrohidro berbasis energi air di sulawesi, dan pompa air tenaga surya di gunungkidul. hal-hal seperti ini memang harus terus disebarluaskan sehingga lebih banyak lagi yang menerapkan pemanfaatan potensi alam yang ramah lingkungan.

  11. Posted by sedjatee on Mei 13, 2010 at 12:51 am

    lama gak ngupdate tulisan Kang..
    mungkin sedang sibuk, semoga sehat selalu
    salam sukses Kang..

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

  12. alhamdulillah, sehat. memang belum update karena lagi banyak tugas luar kota sama nyiapin beberapa kegiatan di kantor. mudah-mudahan bisa update segera setelah ini. sukses selalu bang.

  13. ceritin belanda ya mas?tapi ada yang penting yang bisa kita mbil…yaitu,,,,gimana belanda memperindah negaranya da n membuat negaranya terpandang di negara lain…

  14. kincir segede gaban anginnya sebesar apa yah???

  15. ayo Om, blog nya diupdate lg :)

  16. terima kasih postingannya ya..
    salam kenal…
    kunjungi juga blog saya fakultas teknik unand

  17. salam kenal juga. blog anda sudah saya kunjungi, bagus sekali. salam bagus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: