Tangkal Narkoba ala Kampus Bisnis

STIE Perbanas menunjukkan aksi nyata dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di kampus
STIE Perbanas menunjukkan aksi nyata dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di kampus

Kampus adalah agen perubahan. Tak peduli apapun jenis kampusnya. Universitas, institut atau sekolah tinggi. Prinsip ini dipahami betul oleh Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Surabaya. Mereka memilih berada di posisi terdepan menghalau anasir jahat narkoba. Ancaman kehilangan satu generasi akibat candu membuat mereka sadar bahwa perang terhadap narkoba adalah tugas bersama.

Oleh: M Subchan Sholeh
Mendung tipis menggantung di langit siang itu. Awan-awan kapas berwarna biru lembut turun. Hembusan angin membawa rasa sejuk. Cuaca sedang bersahabat hari itu.
Dua gedung berarsitektur modern berdiri megah. Gedung utama berlantai empat berbalut cat hijau lumut. Di pojok kiri atas tertera tulisan timbul bercat merah bata: STIE Perbanas Surabaya. Gedung sebelahnya, lebih kecil. Tiga lantai. Inilah kampus para calon pebisnis ditempa.

Di dalam salah satu kampus terpandang di Surabaya ini, ribuan mahasiswa bersaing menjadi yang terbaik. Mahasiswa kampus ini umumnya anak-anak orang kaya. Dari anak bankir sampai pengusaha. Lihat saja puluhan mobil yang berjejer rapi di atas lahan parkir beralas batu paving. Untuk mendapat kursi di sini, anda harus merogoh kocek Rp 5 juta untuk uang gedung dan Rp 4,5 juta untuk uang SPP tiap semester.
Impas dengan lengkapnya fasilitas. Ruang kelas berpendingin udara, ruang seminar, perpustakaan, internet center, sarana olahraga, dan enam jenis laboratorium. Laboratorium manajemen, akuntansi, pasar modal, Bank STIE, komputer, dan bahasa.

Namun, bukan itu yang membuatnya lebih menonjol dibanding kampus lainnya. Pembedanya adalah keseriusan kampus di bilangan Nginden Semolo ini dalam mencegah penyalahgunaan narkoba di lingkungan mereka. Unit Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba (UPPN) adalah jawabannya. Didirikan pada 13 Maret 2006, posisi UPPN berada langsung di bawah kendali kampus. Maksudnya jelas. Kewenangan penuh dan sumber daya ada di tangan.

Ada satu peristiwa yang mendasari pembentukan UPPN. Penangkapan seorang oknum mahasiswa berinisial Ar kala berpesta narkoba di luar kampus. Sang mahasiswa pun menerima sanksi, angkat kaki dari kampus.

“Sejak peristiwa itu, kami memandang perlu untuk membentengi mahasiswa dari bahaya pemakaian narkoba,” kata Pembantu Rektor (PR) III Bidang Kemahasiswaan STIE Perbanas, Yudi Sutarso.

Soalnya, narkoba telah merambah ke segala sendi kehidupan, termasuk kalangan pelajar dan mahasiswa. Apalagi penangkapan demi penangkapan mahasiswa pemakai narkoba waktu itu sangat gencar. Ditambah latar belakang ekonomi mapan para mahasiswa Perbanas, membeli narkoba bukan perkara sulit.

Langkah Perbanas membentuk UPPN menemukan momentum yang pas laksana tumbu ketemu tutup. Perbanas menunjuk Unggul Sudiarto, Kabag Kemahasiswaan sebagai komandan UPPN. Tanpa buang waktu, strategi disusun, program kerja ditetapkan. Mereka fokus pada sosialisasi seluk-beluk narkoba. Misalnya, jenis, bentuk, harga, nama, ciri-ciri pemakai narkoba, dampak narkoba, dan cara rehabilitasinya. Gong kampanye antinarkoba pun mulai ditabuh
Awalnya, sosialisasi soal narkoba dilakukan untuk kalangan internal. Kepada mahasiswa baru di masa orientasi dan di sela kegiatan kampus. Orangtua mahasiswa tak luput dari sosialisasi serupa. Guna mendukung atmosfer kampanye, UPPN memasang pula ratusan poster antinarkoba di lorong-lorong kampus.

Yudi menuturkan, kebijakan persuasif lain juga dilakukan. Misalnya, mewajibkan setiap mahasiswa baru melampirkan surat pernyataan bebas narkoba saat mendaftar. Selain itu, Perbanas menyebarluaskan pengumuman yang sangat bijaksana. Perbanas meminta mahasiswanya yang terjerat narkoba dan ingin memulihkan diri, untuk melaporkan diri. Dengan menggandeng Badan Narkotika Propinsi (BNP) Jatim, Perbanas siap membantu rehabilitasi mahasiswanya yang terbelit narkoba. Namun, tak ada kompromi untuk mahasiswa yang tidak melapor dan tertangkap basah memakai narkoba. Baik di dalam atau di luar kampus. Sanksinya jelas, drop out. Titik

“Strateginya memang dibuat seperti itu. Ada langkah persuasif dan represifnya. Para mahasiswa juga sudah paham soal ini,” tandas Yudi.

Khairina Laili Putri (20), salah satu mahasiswi, merasakan betul manfaat sosialisasi bahaya narkoba oleh UPPN. Dia mengaku lebih paham soal narkoba dan lebih berhati-hati jika ada yang menawarinya mencicipi narkoba.
“Saya tidak bisa dibohongi karena saya sudah tahu jenis-jenis narkoba dan namanya,” tukas putri seorang bankir ini.

Usai menggarap lingkungan kampus, Perbanas mulai menengok lingkungan sekitarnya. Pemicunya, banyaknya kasus pemakaian narkoba oleh mahasiswa di tempat kos. 11 Juni 2006. UPPN mengundang ketua-ketua RT dan pemilik kos di tiga kelurahan, Nginden Jangkungan, Menur Pumpungan dan Semolowaru. UPPN hendak mengajak mereka bahu-membahu dalam perang suci melawan gurita candu.

“Rumah kos itu potensial disalahgunakan mahasiswa untuk pesta narkoba. Oleh karena itu, kami merasa perlu menggandeng ketua RT dan pemilik kos untuk memantau aktivitas mahasiswa di tempat kos,” ujar Unggul.

Sayang, dari 200 orang yang diundang, yang hadir tak sampai separonya. Cuma 50 orang. Namun, UPPN pantang mundur. Strategi baru tengah dirancang untuk menarik minat ketua RT dan pemilik kos mendukung kampanye anti narkoba mereka.

Dua tahun berselang, hasilnya terlihat nyata. Tak ada satupun mahasiswa yang melapor terjerat narkoba apalagi tertangkap memakai narkoba. Kendati demikian, bukan berarti kampanye anti narkoba terhenti. Roda kampanye akan terus digulirkan untuk mewujudkan cita-cita menjadi kampus bebas narkoba. (*)

Poster-poster anti narkoba banyak dipasang di lorong-lorong kampus STIE Perbanas. (Dok SP)
Poster-poster anti narkoba banyak dipasang di lorong-lorong kampus STIE Perbanas. (Dok SP)

Garda Pengawal Kampus
Jawa Timur (Jatim) adalah propinsi kedua dengan jumlah pemakai narkoba terbesar di Indonesia. Peringkat pertama diduduki DKI Jakarta. Fakta yang wajar mengingat jumlah penduduk Jatim tercatat sebagai yang terbanyak kedua di Pulau Jawa. Ditambah posisinya yang berbatasan dengan Bali, Jatim menjadi pintu gerbang paling strategis bagi peredaran narkoba.
Sadar akan kenyataan ini, UPPN STIE Perbanas menyiapkan jurus penangkalnya.
Satgas Anti Narkoba. Dibentuk tahun 2008, 25 mahasiswa direkrut sebagai garda terdepan pengawal kampus dari peredaran narkoba.
”Kami mencium indikasi bandar membiayai seseorang untuk masuk kampus lalu beroperasi sebagai pengedar ketika diterima. Kami berharap satgas ini bisa menangkal mereka,” kata Unggul Sudiarto, Ketua UPPN.
Bulan depan, mahasiswa-mahasiswa pilihan ini ditempa Badan Narkotika Propinsi (BNP) Jatim sebagai penyuluh Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Selanjutnya, mereka akan dilantik lantas dimasukkan dalam struktur UPPN.
“Tugas utama satgas adalah penyuluhan anti narkoba kepada teman-temannya. Agar teman-temannya bisa menjadi ‘satgas’ untuk dirinya sendiri dengan tidak tergoda memakai narkoba,” urai Unggul.
Mereka juga diberi tugas khusus. Mencium jejak pengedar narkoba di kampus.
Mereka diyakini mampu membuat perbedaan bagi wajah kampus. Masa tugas yang lama, sampai lulus, ditambah rekrutmen regular tiap tahun untuk regenerasi, membuat peran satgas memerangi peredaran narkoba menjadi sangat berarti.
“Bandar-bandar narkoba pasti mikir lagi kalau mau masuk ke sini. Soalnya, satgas kami bisa dengan mudah mengenali mereka,” ucap Unggul yakin. (*)

Sapti Yoestitia, ikon UPPN dalam kampanye anti narkoba.
Sapti Yoestitia, ikon STIE Perbanas dalam kampanye anti narkoba (Dok. SP)

Sang Duta Jadi Ikon
Waktu menunjukkan pukul setengah dua siang. Tiga perempuan sibuk menulis dan mengetik di ruang Humas STIE Perbanas. Tiba-tiba seorang perempuan muda masuk tergopoh-gopoh.
“Maaf, saya terlambat. Saya baru selesai bimbingan skripsi,” ujar perempuan berkulit putih itu sambil menenteng map plastik di tangan kirinya dan tas hitam di bahu kanannya. Ia merasa berdosa sekali karena terlambat 30 menit dari janji wawancara. Posturnya tinggi, 167 sentimeter. Seimbang dengan bobotnya, 50 kilogram. Matanya hitam dengan alis bak semut beriringan. Hidung mancung, rona kemerahan di wajah bulatnya ditambah bingkai kacamata persegi panjang warna tembaga makin menambah pesonanya. Ia jelita. Dibalut kemeja putih lengan pendek motif garis, plus celana jins biru model terakhir, dia simply irresistable.
“Saya Sapti,” katanya sambil mengulurkan tangannya yang sangat terawat. Dia lantas mengajak berpindah ke ruang sebelah untuk wawancara. Dialah Sapti Yoestitia. Lajang 23 tahun ini tengah berada di akhir studinya. Persis empat tahun. Namun, ini bukan hal yang luar biasa. Adalah aktivitasnya sebagai ikon tidak resmi UPPN STIE Perbanas yang membuatnya berbeda. Hampir satu tahun terakhir, lajang asal Gresik ini getol berkampanye soal bahaya pemakaian narkoba.
Dalam berbagai kegiatan di kampus, dia selalu didaulat untuk memberi penyuluhan soal narkoba. Mulai festival musik sampai kompetisi olahraga. Dia kenalkan seluk-beluk narkoba kepada sejawatnya. Hasilnya, banyak mahasiswa yang tertarik karena mereka memang belum begitu tahu soal narkoba.
“Narkoba itu topik yang tidak pernah habis,” sambung juara tiga kompetisi panjat tebing antar sekolah se-Jatim tahun 1999 ini.
Bukan tanpa alasan Sapti dipilih sebagai ikon UPPN untuk kampanye anti narkoba. Anak perwira pertama polisi itu adalah Duta Putri Anti Narkoba Tahun 2007 yang dihelat Gerakan Anti Narkotika (Granat) Surabaya. Tak heran, jika dia hafal di luar kepala soal narkoba. Walau begitu, ada saja yang menilai negatif aktivitasnya.
“Saya dianggap mantan pemakai yang bertobat dengan berkampanye anti narkoba,” ungkap Sapti dengan nada kesal.
Ibarat anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, sindiran itu tak digubrisnya. Dia malas membuang-buang waktu untuk hal yang tidak penting. Malah itu dijadikannya motivasi untuk makin gencar berkampanye. Lagipula yang mendukungnya jauh lebih banyak.
Dia paham betul jika tugasnya belum selesai. Apalagi masih banyak yang belum sadar kalau pencegahan pemakaian narkoba adalah tugas bersama. Bukan hanya tugas polisi dan pemerintah.
“Saya selalu sampaikan kalau mencegah peredaran narkoba adalah tugas kita semua,” tandasnya.
Bagi dia, pencegahan adalah faktor terpenting dalam perang melawan narkoba.
Oleh karena itu, dia tak pernah bosan-bosan berbagi resep jitu menangkis narkoba. Ada tiga rumusnya. “Memperbanyak aktivitas positif, selektif memilih teman, dan dekat dengan keluarga terutama antara orangtua dan anak,” pungkasnya. (28 April 2008)

*) Atas izin Allah, tulisan ini dianugerahi Juara Silver untuk kategori features dalam lomba karya jurnalistik pencegahan penyalahgunaan narkoba, Life Award 2008.

3 responses to this post.

  1. buat duta narkoba…
    emang bener apa yang di katakan oleh penulis
    dia emang cantik..
    miss u sapi..

  2. mas aris bener. oya, namanya salah ketik ya mas, yang bener sapti.

  3. Posted by ARDI on Oktober 15, 2009 at 5:24 am

    Langkah yang bagus……salut…..
    Penyalahgunaan narkoba memang harus dijauhkan dari ingar bingar kampus karena kampus memang jembatan terakhir sebelum mahsiswa terjun ke masyarakat….pengedar silakan jauh-jauh dari negeri ini.
    namun,bagaimana dengan teman-teman kita yang sudah terlanjur terjebak di dalam kubangan hitam narkoba?

    bagaimana dengan pendidikan adalah hak seluruh masyarakat???pecandu narkoba jg butuh pendidikan karena itu adalah haknya.
    Orang yang sudah menjadi pengguna tidak akan dengan mudahnya mengaku bahwa ia make…pecandu narkoba akan cenderung tertutup terhadap lingkungan yang ia anggap bukan golongannya…apakah ia akan segampang itu untuk mengaku dan minta direhabilitasi?

    apalagi dengan adanya satgas yang nota bene adalah teman sendiri…pecandu akan smakin menutup diri dan semakin terpuruk sehingga membuat kampus sulit mengidentifikasi.

    alangkah baiknya jika kita sebagai orang akademisi melihat bahwa pecandu itu adalah keluarga qt dan mencoba untuk mengajaknya bangkit dari keterpurukan untuk kembali belajar bersama-sama…

    thx forumnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: