Lontong Haruan. Mau?

Bentuknya bulat memanjang. Kukusan beras isinya. Daun pisang selimutnya. Apa kira-kira ya? Anda sudah tahu? Kalau belum, saya beri petunjuk tambahan. Dia senantiasa hadir dalam sepiring gado-gado, ketoprak, tahu tek-tek, rujak cingur sampai bakso.

Ya, lontong. Selamat buat anda yang telah menjawab dengan benar. Nah, di Banjarmasin, lontong berpadu sempurna dengan penghuni kedalaman Sungai Barito.
Kepalanya besar agak gepeng mirip kepala ular. Punya sisik-sisik besar di atas kepala. Tubuh bulat memanjang seperti peluru kendali. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor membulat di ujungnya. Warna tubuhnya hitam gelap kecoklatan. Mulut besar, dengan gigi-gigi besar dan tajam. Kenalkan, dia adalah ikan haruan. Penghuni kedalaman Barito ini mirip ikan gabus yang di Jawa sering disebut sebagai iwak kutuk. Diduetkan dengan lontong, haruan menjadi makanan istimewa di kota seribu sungai. Bukan sekadar kenal tapi mungkin telah menjadikannya santapan wajib tiap akhir pekan atau bahkan tiap hari.
Makanan sedap ini tersaji di warung “Lontong Orari”. Dulu, warung ini merupakan markas para aktivis radio amatir yang tergabung dalam ORARI (Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia). Rupanya para breakers ini selain gemar cuap-cuap di udara juga sering melakukan kopi darat untuk bertatap muka. Secara kebetulan, tidak jauh dari lokasi kumpul-kumpul mereka itu ada seorang penjual lontong yang sungguh nikmat.

Kedai “Lontong Orari” yang selalu ramai. (dok. m subchan)


Selengkapnya

Pada Sebuah Pasar

Bagai dua sisi mata uang, begitulah Sungai Barito dan Banjarmasin. Belum ke Banjarmasin kalau belum mengarungi Barito. Barito adalah denyut nadi kota seribu sungai itu. Banyak aktivitas warga dilakukan di sungai terutama perdagangan bahan pokok.

Selengkapnya

Aksi Desa Ngabab

Desa Ngabab, Pujon, Kab. Malang (dok. msubchans)

Kabar baru datang dari desa vokasi kami, Desa Ngabab. Desa subur di lereng Pegunungan Pujon, Kabupaten Malang itu memasuki babak baru dalam pengolahan limbah sapi. Jika  sebelumnya dimanfaatkan sebagai biogas, sekarang sisa biogas diolah menjadi pupuk organik. Bukan hanya itu, desa penghasil susu sapi ini telah memulai usaha pembuatan yogurt.

Ini yang saya jumpai kala berkunjung untuk kedua kalinya tepat pada Hari Ibu tahun lalu. Bersama rekan saya, Mas Widhi, kami menemani kunjungan seorang staf Ditjen PNFI yang hendak memantau perkembangan desa vokasi ini. Masih seperti kunjungan pertama saya pada November tahun 2009, desa ini begitu meneduhkan hati. Hawa dingin nan segar khas pegunungan segera menyergap begitu memasuki mulut desa. Di kiri-kanan jalan hamparan hijau ladang berpadu dengan pegunungan berselimut kabut. Latar belakang yang manis bagi jejeran rumah-rumah penduduk di depannya. Selengkapnya

Dedikasi Keluarga ”Oemar Bakri”

Suhirno (kiri) dan Andika Tri H di depan pintu masuk TBM Lesta Wacana, Desa Gendol, Sine, Ngawi (dok. msubchan)

                        Puluhan tahun bekerja sebagai amtenar sudah pasti meletihkan fisik dan pikiran. Maka ketika masa pensiun tiba, rehat panjang sembari menekuni hobi atau menemani cucu menjadi pilihan populer. Berbanding terbalik dengan pensiunan amtenar yang satu ini. Pengabdian selama empat windu sebagai guru SD rupanya masih belum cukup bagi Suhirno. Jiwa pendidiknya terus bergejolak kendati masa pensiun tiba pada 1995. Pria berpostur sedang dengan rambut perak sebahu ini berpikir keras menyiapkan arena pengabdian selanjutnya. Selengkapnya

Surga Baca di Kaki Lawu

 

TBM Lesta Wacana (pojok kanan) di Desa Gendol, Kecamatan Sine, Ngawi tertutup rimbunnya pepohonan. (dok. msubchan)

           Kisah negeri fantasi yang tersembunyi di balik lemari baju dalam dongeng fiksi The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch and The Wardrobe seperti terulang di Desa Gendol, Kecamatan Sine, Ngawi. Desa berjarak 200 Kilometer dari Surabaya itu terletak di kaki Gunung Lawu. Di balik rapatnya pintu bambu berlapis terpal putih yang memagari halaman, terhampar luas taman indah bak kebun raya. Taman terbentang ke samping kiri dan kanan seluas dua lapangan tenis.

            Kebun salak seluas lapangan bola voli menguasai bagian timur taman. Pohon buah terdapat di mana-mana. Buah durian, buah jambu air, buah pisang, dan buah nangka. Ada pula pohon jati, dan sono. Aneka tanaman dalam pot tanah liat dan plastik seperti sri rejeki, bugenvil, euphorbia, kaktus, kuping gajah, dan ekor ayam mengelilingi bakal kolam renang anak. Rimbunnya pepohonan nyaris menutupi rumah berwarna putih di pojok paling kanan. Rumah yang telah menjadi lentera desa dalam empat tahun terakhir.

            ”Sejak tahun 2009, penyandang buta aksara di kecamatan ini berhasil dituntaskan,” ucap Andika Tri Hirniamsyah bangga.

Selengkapnya

Pak Fadlun dan Keluarganya

Profilnya yang unik membuat saya kagum. Unik karena dia satu-satunya kepala unit teknis kami di bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bukan putra daerah. Dia asli Kebumen, kabupaten berjarak 180 Kilometer dari dari Semarang, ibukota Jawa Tengah.

Fadlun Sururiyadi nama lengkapnya. Kombinasi bahasa Arab dan Jawa itu kira-kira bermakna seseorang yang penuh rasa adil, selalu bahagia dan dinaungi kebijaksanaan. 

Penghujung 2008, pertama kali saya mengenalnya. Dia hadir dalam pertemuan rutin tahunan di Surabaya. Dalam kegiatan itu, seorang kawan, Yanti pernah salah tafsir kepadanya. Tepat saat Fadlun hendak check in. Begitu Pak Fadlun menuju meja check in, Yanti segera menyodorkan daftar hadir untuk wilayah Jatim kepadanya. Semua didasari raut wajah dan postur khas Jawa yang melekat pada diri Pak Fadlun. Melihat itu, Pak Fadlun tak marah. Dia cuma tersenyum simpul sambil memberitahu Yanti.

 “Saya bukan dari Jatim, mbak. Saya dari Rote, NTT,” ucapnya.

 Yanti kaget bukan kepalang. Mukanya merah padam. Yanti buru-buru minta maaf. Namun, Yanti masih penasaran. Beberapa kali dia melirik sembari mengamati inci demi inci Pak Fadlun, dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Yanti tak salah. Perawakan Pak Fadlun memang beda macam langit dan bumi dengan tipikal warga NTT yang tinggi besar, dan berambut ikal. Sebaliknya, Pak Fadlun berpostur sedang, ramping, dan rambutnya lurus belah samping.

 Karakter khas tanah kelahirannya terpancar kuat dari raut wajah ovalnya. Pendiam, sabar, tenang, dan baik hati. Rahang yang kukuh membuatnya tampak berwibawa. Wibawa  yang membuatnya negitu dihormati anak buah dan rekan sejawat. Kharisma demikian tak dibangun dalam semalam.

 Sudah 12 tahun Fadlun menjejakkan kakinya di sini. Sejak menjadi staf fungsional atau pamong belajar (PB) di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Rote Ndao pada tahun 1998 sampai akhirnya dipercaya memegang tampuk jabatan tertinggi sebagai Kepala SKB pada akhir 2006.  

Kantor SKB Rote Ndao (dok.msubchan)

Sudah setengah windu, Fadlun memimpin, mengelola dan mengendalikan unit terdepan milik Kementerian Pendidikan Nasional di pulau terpencil. Tanggungjawab utamanya menggelar pendidikan nonformal dan informal, jamak disingkat PNFI. Programnya terentang lebar. Dari menyiapkan generasi penerus bangsa lewat pendidikan anak usia dini (PAUD), memberi kesempatan kedua untuk mereka yang putus sekolah dengan pendidikan kesetaraan dalam bentuk Kejar Paket A sampai Paket C, pemberantasan penyandang buta aksara, hingga pelatihan keterampilan bagi kaum miskin dan pengangguran melalui pendidikan kecakapan hidup. Selengkapnya

Nemberala adalah Surga

Nemberala, Rote Ndao, NTT

Maukah anda berwisata pantai yang sebenarnya ? Pasir putih terhampar di mana-mana. Tenang dan menghanyutkan. Tidak hiruk pikuk. Bebas dari bangunan dan kios-kios penjualan suvenir. Jika anda menjawab iya, kemasi ransel anda lalu gapailah Nemberala.

Selengkapnya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.